Tuesday, 13 August 2013

Memahami Asal Usul Kembang Api dan Petasan





Oleh
Baiti Nur Atika


Indonesia merupakan negara yang multikultural dari segi suku dan kebudayaan. Tak heran banyak tradisi yang dilakukan beragam macamnya. Namun, dari setiap suku yang memiliki kebudayaan masing-masing terdapat beberapa tradisi atau kebiasaan dilakukan bersama oleh masyarakat Indonesia pada hari-hari besar tertentu. Salah satunya perayaan hari besar keagamaan ataupun hari besar nasional. Pada umumnya, tradisi atau acara yang diadakan pada hari besar nasional hampir sama di seluruh penjuru Indonesia. Sebagai contoh ketika perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1945, masyarakat Indonesia membuat seremonial kemenangan dengan mengadakan lomba-lomba kecil di setiap RT atau RW. Selain itu, acara tahun baru masehi yang bertepatan tanggal 1 Januari dimeriahkan dengan meluncurkan beberapa buah kembang api dan petasan ke atas langit sehari sebelumnya di malam hari. Kemudian semua orang mengharapkan sebuah resolusi kehidupan di masa depan yang lebih baik.
Hal unik dari peluncuran kembang api maupun petasan ke atas langit. Di samping indah, ternyata ada maksud lain dari simbolisme kembang api dan petasan tersebut apalagi di hari tahun baru.
Menurut sejarah, kembang api dan petasan muncul pada saat dinasti Tang (618-907) (UII)[PDF]. Seorang juru masak secara tak sengaja mencampur tiga bahan bubuk hitam (black powder) yakni garam peter atau kalium nitrat, belerang (sulfur), dan arang dari kayu (charcoal) yang berasal dari dapurnya. Ternyata campuran ketiga bahan itu mudah terbakar. Berkembang saat dinasti Song (960-1279) dengan mendirikan pabrik petasan yang kemudian menjadi dasar dari pembuatan kembang api karena lebih menitik-beratkan pada warna-warni dan bentuk pijar-pijar api di angkasa hingga akhirnya dibedakan (Sekedar Tahu Saja, 2012). Diketahui bahwa Cina merupakan negara industri pertama yang memproduksi kembang api kemudian masuk ke Arab dan berkembang sampai ke Amerika.

Kembang api ditemukan di Cina untuk menakut-nakuti roh jahat, sebagai perkembangan dari penemuan lainnya yaitu bubuk mesiu (Wikipedia, 2013)[Online]. Hal ini berkaitan dengan Tahun Baru Imlek, karena  menurut legenda, dahulu kala, Nián  adalah seekor raksasa pemakan manusia dari pegunungan (atau dalam ragam hikayat lain, dari bawah laut) yang muncul di akhir musim dingin untuk memakan hasil panen, ternak dan bahkan penduduk desa. Untuk melindungi diri mereka, para penduduk menaruh makanan di depan pintu mereka pada awal tahun. Dipercaya bahwa melakukan hal itu Nian akan memakan makanan yang telah mereka siapkan dan tidak akan menyerang orang atau mencuri ternak dan hasil Panen. Pada suatu waktu, penduduk melihat bahwa Nian lari ketakutan setelah bertemu dengan seorang anak kecil yang mengenakan pakaian berwarna merah. Penduduk kemudian percaya bahwa Nian takut akan warna merah, sehingga setiap kali tahun baru akan datang, para penduduk akan menggantungkan lentera dan gulungan kertas merah di jendela dan pintu. Mereka juga menggunakan kembang api untuk menakuti Nian. Adat-adat pengurisan Nian ini kemudian berkembang menjadi perayaan Tahun Baru (Wikipedia, 2013)[Online].
Sampai saat ini, perayaan hari besar Nasional maupun Keagamaan sering kita jumpai dengan dimeriahkan oleh pesta kembang api dan petasan. Namun, penggunaannya banyak merugikan masyarakat karena terdapat korban akibat benda tersebut. Seorang bocah menjadi korban akibat ledakan petasan pada tempat keramaian di area monumen Arek Lancor Kota Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Selasa malam dan menyebabkan korban luka-luka (Ruslan, 2013). Selain itu, berita datang dari Jawa Timur, Pada H+1 dan H+2 Idul Fitri 1434 H terdapat 29 orang korban petasan (Priyonggo, 2013).
Untuk itu pemerintah memberlakukan Undang-Undang Darurat terhadap penggunaan kembang api dan petasan. Baik penjual maupun pembeli bisa terjerat hukuman 6 sampai 12 tahun penjara dalam penggunaannya yang salah dan tanpa izin.
Namun, tidak semua petasan dilarang dalam penjualannya dan pedagang tetap bisa mengais rezeki dari penjualan petasan. Polisi telah menentukan jenis petasan dan kembang api apa saja yang boleh dijual. Petasan uang ukuran panjangnya kurang dari dua inchi, tidak memerlukan izin pembelian dan penggunaan, sehingga dapat diperjualbelikan kepada masyarakat. Namun, petasan yang berukuran dua hingga delapan inchi, penjualan, pembelian, dan penggunaannya harus ada izin dari Baintelkam Mabes Polri, dan itu untuk kepentingan pertunjukan (Gunawan, 2013). Jadi, Berhati-hatilah!


Sumber :
Saja, Sekedar Tahu. 2012. Asal Usul dan Sejarah Petasan Kembang. [Online] http://www.sekedar-tahu-saja.com/2012/01/asal-usul-dan-sejarah-petasankembang.html#sthash.OJNAwgQB.dpuf
Wikipedia. 2013. Kembang Api. [Online] http://id.wikipedia.org/wiki/Kembang_api
Wikipedia. 2013. Tahun Baru Imlek. [Online] http://id.wikipedia.org/wiki/Tahun_Baru_Imlek
Priyonggo, Ragil. 2013. Korban Ledakan Mercon di RSU Dr.Soetomo Meningkat. [Online] http://m.beritajatim.com/detailnews.php/8/Peristiwa/2013-08-10/180437/_Korban_Ledakan_Mercon_di_RSU_Dr_Soetomo_Meningkat_
Ruslan, Heri. 2013. Bocah Enam Tahun Jadi Korban Ledakan Petasan. [Online] http://www.republika.co.id/berita/nasional/jawa-timur/13/08/06/mr49fu-bocah-enam-tahun-jadi-korban-ledakan-petasan
Gunawan, Hendra. 2013. Tak Semua Petasan Dilarang. [Online] http://www.tribunnews.com/regional/2013/07/15/tak-semua-petasan-dilarang

Tuesday, 2 July 2013

Pahlawan



Menatap sekilas wajahmu
Alangkah gagahnya dirimu
Lantunan nafasmu saat tidur
Ingatkanku pada sosok tertua di rumah
K au yang juga terkadang menjengkelkan

Aku disini meminta pada pemilikmu
Biarkan kau menjadi penerus bangsa dan agama
Do’aku adalah ketika dewasa nanti
Usahamu hanyalah untuk yang mulia
L ihat! Kota Roma itu belum ada yang menaklukannya

Aku berharap suatu saat nanti kaulah orangnya
Zona nyaman itu mau tidak mau harus kau dobrak dari kehidupanmu
Itulah tanda baktimu pada orangtua
Zaman sudah menunggumu, Pahlawan!

Monday, 1 July 2013



Cintaku  Mentok  Di  Kota  Dodol

Matahari pagi memancarkan sinarnya ke sebagian belahan bumi, memaksa Deia beranjak dari pulau kapuk tercintanya. Udara pagi yang dingin membuat Deia bertambah semangat untuk menarik selimut dan melanjutkan mimpi indahnya dalam tidur. Tiba-tiba dering dari salah satu ketiga handphonenya di atas meja lampu berbunyi, dan muncul nama Ane di situ…
Dengan mata yang masih terpejam, “Halo Ne, ada apa?”
“Lo lagi dimana sekarang? Gue mau minta tolong nih?”
“Di kamar.” Deia yang masih setengah sadar menjawabnya dengan lemas.
“Ya ampun Dei, lo baru bangun? Plis deh, sekarang liat udah jam berapa. Dasar kebo!”
“Bodo!” singkat perbincangan mereka berdua, Dea langsung memutuskan perbincangan dan melanjutkan tidurnya  yang tertunda.
“Dei? Halo Dei? Aduuhh, kok malah dimatiin sih.” Terlihat raut wajah Ane yang kesal
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Mama Deia yang sedang menata sarapan di meja makan, dan papanya yang sudah menunggu di meja makan siap menyantap hidangan sarapan pagi.
“Mah, Deia mana?” Tanya papanya santai.
Sambil meletakkan satu piring pisang goreng di atas meja, Mama Deia melemparkan pertanyaan ke Mbo Odah, pembantu di rumahnya, “Mbo, Deia sudah bangun belum?”
“Belum, Bu” jawab Mbo Odah.
“Ya ampun, bener-bener tuh anak.” Sejenak, Mama beranjak dari meja makan dan menghampiri kamar Deia.
Tok..tok..tok…Deei, Deia, bangun sayang. Kamu liat dong udah jam berapa sekarang.”
Dengan malasnya Deia membalikkan badan dan menutup selimut ke seluruh tubuh. Tapi Mama tetap terus membangunkan sampai ada jawaban dari Deia. “Deei, bangun dong sayang, udah siang nih.”
“Aaarrgghh, iya Maah.” Bunyi ketokan pintu yang mengganggu telinga Deia terpaksa bangun dari tidurnya. Deia kesal dan merasa tidurnya selalu terganggu setiap paginya.
“Mama tunggu kamu di meja makan.” Mama langsung kembali menuju meja makan.
“Huh, tadi Ane sekarang Mama. Aargghh, gak ada apa yang bisa ngertiin gue.” Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi, dan menurut Deia itu masih sangat  pagi sekali. Tapi apa mau diperbuat, Mama akan terus mengetuk pintu kamar kalau Deia masih berada di kasurnya.
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Setelah semuanya sudah rapi, Deia menuju meja makan dan sarapan dengan kedua orangtuanya. “Pagi, Mah, Pah” Sahut Deia. Mama yang sedang memotong roti sedikit menghentikan pergerakkannya dan menjawab sahutan Deia.
 “Pagi, sayang” Jawab Mama sambil cipika-cipiki. Begitupun dengan Papa.
Di atas meja penuh dengan makanan sarapan pagi seperti biasanya; roti, pisang goreng, susu, air putih, dan selai. Tanpa basa-basi Dea langsung duduk di sebelah mamanya dan menyantapnya dengan lahap.
Ketika sedang menikmati roti dengan olesan kacang di mulutnya dan Papa yang juga sedang memotong roti untuk disantapnya, tiba-tiba Mama menanyakan hal aneh pada Deia.
“Sayang, kamu kan sekarang udah dewasa. Mamah sama Papa bangga ngeliat kamu udah bisa mandiri. Tapi Mama rasa ada yang kurang, sayang”
“Maksudnya, Mah?” jawab Deia sambil terus menyantap roti selai kacang.
“Mana pacar kamu?” Tanya Mama.
Tersontak kaget dan tersedak membuat makanan yang sedang Deia makan keluar dari mulutnya. “Kamu gapapa, sayang” Tanya mama.
Deia mengambil segelas air putih dan langsung meminumnya. “Gapapa kok, Mah. Kok Mama tumben nanya gitu? Emang kenapa, Mah?”.
“Nggak apa-apa, Mama cuma mau nanya kamu sebenernya udah punya pacar belum, soalnya Mama belum pernah dikenalin selama ini sama kamu, kamu kenalin dong ke Mama sama Papa” sambil membujuk Deia.
Perasaan bingung menghampiri Deia, entah apa yang harus dijawabnya. Sejujurnya Deia belum memimilki pacar sampai detik ini.
“Iya Mah, nanti Deia kenalin ke Mama Papa.” Deia mencoba menjawab dengan jawaban yang sedikit melegakan hati.
“Gitu dong,  Mama tunggu loh” Ancam Mama dengan penuh harapan.
 “iya Mah” jawab Deia dengan sedikit senyuman tipis.
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Ting..tong..ting..tong. Suara bel rumah berbunyi, Mbo Odah segera menuju pintu dan membukakan pintu, melihat siapa yang datang.
“Siang Mbo, Deia nya ada?” Sapa Ane dengan senyuman manis.
“Eeh, Neng Ane. Ada tuh, lagi di kolam renang, silahkan masuk Neng”. Mbo Odah membuka pintu sedikit lebih lebar dan mempersilahkan Ane masuk.
“Makasih Mbo” Senyuman manis kembali diberikan Ane kepada Mbo Odah.
Terbaring menghadap sengatan sinar matahari yang panas. Deia memakai kacamata hitam agar tidak menyilaukan matanya. Saat bersantai, terlintas dipikiran Deia akan pertanyaan Mama pagi tadi. Pacar?, kapan gue ngenalin ke Mama Papa?, Tanya Dea dalam hati penuh kebingungan. Umur Deia yang sekarang 24 tahun dan masih belum memiliki pacar layaknya beban yang harus diselesaikan. Dari mana gue bisa dapet pacar secepat itu? Pikirnya. Mendapatkan pasangan hidup atau pacar sekalipun tak semudah membeli cabai di pasar. Deia hanya bisa menjalani apa yang ada, karier dia menjadi fotografer professional di majalah Atikan sekarang. Tapi, seiring berjalannya waktu Deia berharap semoga dia bisa mendapatkan pasangan hidupnya.
“Dooooorrrrr.” Kejut Ane sambil tertawa.
Deia tersontak kaget dan mengelus dada. “Bisa ga sih lu nggak ngagetin gue terus-terusan” ketus Deia sambil memukul lengan Ane.
“Nggak.” Jawab Ane sambil tertawa. “Abis lu asyik sih kalau dikagetin, apalagi dijailin, hahaha…”.
“Seneng lo?!” Sahut Deia dengan nada ketus.
“Seneng bangeeet, hahaha…” Tawa Ane terbahak-bahak dan langsung duduk di sebelah Deia.
“Ada apaan sih lo dateng kemari?” Tanya Deia heran.
“Gue minta bantuan lo dong, dua bulan lagi sepupu gue nikah. Dia minta bantuin gue ngurusin foto pre-weddingnya dia. Pas banget kan Dei, gue punya sahabat kaya lo” Senyum rayuan Ane membujuk Deia.
“Yaa terus?” Sambil mengambil segelas es teh lemon di sampingnya.
“Lo bantuin gue buat jadi fotografernya.” Bujuk Ane sambil tersenyum merayu.
“Gak bisa, gue sibuk.” Tolak Deia tegas.
“Yaah, Deiaa. Ayolah Deei, bantuin gue. Masa sih lo tega sama sahabat lo sendiri” Rayuan Ane dengan muka yang cemberut adalah jurus jitu dia menaklukan Deia saat meminta bantuan.
“ Iya iya, gue mau. Kapan?” Tanya Deia.
“Sepupu gue tinggal di Garut, dan katanya dia mau disana aja fotonya. Jadi, minggu depan kita berangkat.”
“Yaudah, nanti lo kabarin gue lagi aja” sambil membenarkan posisi kacamatanya.
“Siap, Bu Bos! Apa sih yang ngga buat lo” Sambil hormat dan bergaya centil.
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Akhirnya sampailah di Garut. Kota yang sempat Deia kunjungi waktu dia masih berumur 7 tahun, dan salah satu makanan khas kota ini yaitu dodol. Udara sejuk sepanjang jalan, suasana pedesaan yang masih terlihat indah dan memiliki banyak tempat wisata disana. Mereka berdua tiba di tempat kediaman sepupu Ane. Pemotretan akan dimulai besok dan tempatnya di daerah pesawahan. Sambil mengisi waktu sore, mereka berdua keliling kota Garut sambil menikmati indahnya sore hari.
“Kita mau kemana lagi nih?” Tanya Deia.
“Udaah, keliling-keliling aja lagi. Gue masih kangen sama suasana kota Garut, ternyata banyak yang berubah, ga nyangka gue.” Sambil menikmati udara sore hari.
Tiba-tiba motor melintas dari arah gang sebelah kiri mobil, menyerempet lampu depan mobil Deia dan motor yang dikendarai seorang pria dengan membawa beban beberapa karung terjatuh. Deia dan Ane langsung keluar dari mobil menghampiri laki-laki itu.
“Heh! Lo kalo ngendarain hati-hati dong. Liat kanan kiri dulu! Jangan main langsung jalan aja. Bisa ga sih lo bawa motor?! Liat tuh mobil gue jadi lecet kan.” Deia langsung memarahi pria itu.
“Punten neng, saya minta maaf.” Sambil berusaha mendirikan motor dan mengambil karung-karung yang berjatuhan.
“Kang Aryo?” Sambar Ane terkejut melihat pria yang ternyata dikenalnya.
“Eh, Neng Ane. Kumaha damang? Nuju naon Neng di dieu?” Perbincangan sedikit beralih ke Ane. Sepertinya, ada dua orang yang baru saja bertemu kembali saat itu.
“Alhamdulillah Kang, damang. Saya kesini lagi ngurusin buat foto pre-weddingnya Ratih. Akang diundang kan?” Tanya penuh yakin.
“Ooh, di undang atuh Neng. Akang kan yang bikin dodol buat resepsi pernikahannya Ratih” Jawab Aryo meyakinkan.
“Eh..eh..eh, kok jadi kalian sih yang ngobrol. Ini urusan mobil gue belum selesai ya.”
“Oh ya, Dei, kenalin ini kang Aryo. Langganan dodol keluarga sepupu gue di Garut. Dodol bikinan dia enak banget, lo pasti suka. Kang Aryo, kenalin ini Dea.” Sambil saling memperkenalkan.
“Bodo! Gue gak suka. Yang penting sekarang gimana caranya supaya mobil gue gak lecet lagi. pokoknya lo harus tanggung jawab!” Sambil menunjuk pria tersebut.
“Saya minta maaf, Neng. Saya tidak bermaksud merusak mobil Neng. Saya juga belum bisa mengganti kerusakan mobil Neng sekarang ini juga.”
“Yaa terus kapan dong? Tahun depan? Gue gak mau tau pokoknya lo harus ganti secepatnya!”
“Udah, udah Dei. Mobil lo tuh cuma lecet lima senti juga. Lagian kasian kang Aryo, dia cuma pembuat dodol” Sambil berbisik kecil ke telinga Deia.
“Gapapa kok Neng, insya Allah secepatnya akang gantiin kerusakan mobil temen Neng.” Bantah Aryo.
“Baguslah, awas kalo bohong!” Sambil melotot dan kembali menuju mobil.
 “Akang, maafin temen saya ya Kang” Sambil memohon maaf.
“Aah, wios Neng. Emang salah akang kok Neng, Akang kurang hati-hati.”
“Yaudah Kang, kita berdua pamit pulang. Assalamu’alaikum” Ane pergi meninggalkan Aryo.
“Wa’alaikumsalam, hati-hati Neng” Sambil melambaikan tangan.
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Pemotretan berlangsung lancar di salah satu pesawahan kota Garut. Salah satu view bagus untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Ada beberapa sesi pemotretan lagi tapi tidak mungkin di lanjut hari itu juga. Karena cuaca cerah tidaklah bertahan lama dan digantikan hujan.
Sambil Menikmati hujan yang membasahi kota Garut, Deia merebakan badan di kamar dan melihat hasil pemotretan siang tadi. Terdengar ketukan pintu dan sepertinya ada tamu yang datang.
Tiba-tiba Deia dan Ane dipanggil oleh tantenya Ane. Lusa, mereka berdua disuruh datang ke tempat pembuatan dodol yang di pesan keluarga sepupu Ane.
“Assalamu’alaikum.” Salam Ane di salah satu rumah tujuan keduanya.
“Wa’alaikumsalam. Eh, Neng Ane, kumaha damang? pasti mau liat pembuatan dodol ya?” Sambil menebak kedatangan Deia dan Ane.
“Alhamdulillah baik, Kang. Iya nih kang, kita berdua juga disuruh milih rasa dodol mana yang paling enak untuk resepsi nanti, boleh Kang?”
“Ooh boleh boleh, Neng. Mangga atuh kita ke tempat pembuatan dodol.” Sambil mengajak menuju tempat pembuatan dodol.
“Nah, ini Neng tempat pembuatan dodolnya.” Ujar Aryo.
Ane asyik dengan belajarnya dia membuat dodol dengan Aryo dan menyicipi beraneka rasa dodol yang dibuat. Sementara Deia sibuk mengambil gambar para pekerja yang sedang membuat dodol. Tiba-tiba, genangan air di bawah kaki Deia dan landasan yang licin membuat Deia terpleset dan keseleo.
“AAAWWW, sakiiitttt!” Jerit Deia penuh kesakitan. Sejenak para pekerja terhenti aktivitasnya, Aryo dan Ane menghampiri Deia.
“Ya Allah, Neng Deia kenapa?” Tanya Aryo.
“Dei, lo kenapa?” Tanya Ane heran. Deia masih merintih kesakitan memegang kakinya. “Eneng ini tadi terpleset di tempat licin, Kang.” Sahut salah satu pekerja.
“Astaghfirullah, sebaiknya Neng ke rumah saya, biar diobatin ya Neng.” Sambil memapah Deia ke rumahnya. Deia yang masih kesakitan tidak bisa berbuat apa-apa terpaksa dipapah oleh orang yang sudah membuat mobilnya lecet.
“Sakedap ya Neng, saya ambilkan minyak dulu.” Sahut Aryo dan langsung menuju dapur.
“Ya ampun Dei, kaki lo kenapa jadi bengkak gini sih.” Ane kaget keheranan. “Adduuuh, gak tau deh. Gue gak bisa gerak nih sekarang. Sumpah sakit banget, Ne.” Rintih Deia kesakitan.
Datang Aryo dan ibunya yang berusaha menguruti kaki Deia yang bengkak. Deia berusah menahan kesakitannya namun tidak bisa. Kakinya masih terasa sakit dan belum bisa jalan. Akhirnya untuk sementara Deia tinggal di rumah kang Aryo sampai kakinya benar-benar bisa jalan kembali. Ane pamit pulang karena ia masih harus mengurusi gaun pernikahan sepupunya, tapi dia janji jenguk Deia dan Aryo janji akan merawat Deia sampai kakinya benar-benar sembuh.
---------------------------------------------------------------------------------------------------Hujan di sore hari dan udara yang dingin, Deia termenung menghadap luar jendela kamar. Dia memikirkan kejadian beberapa hari lalu. Sikapnya yang terlalu berlebihan dengan Aryo yang menuntut untuk mengganti rugi mobilnya yang lecet. Dari arah pintu Aryo datang menghampiri Deia sambil membawa satu porsi makanan dan segelas air putih di tangannya.
“Punten, Neng. Ini saya bawakan makanan buat Neng Dea.” Sambil menyodorkan makanan ke Deia. Deia berusaha memperbaiki posisi duduk dengan sedikit merintih sakit. “Hati-hati, Neng.” Sambil membantu memperbaiki posisi duduk Deia.
“Makasih, Kang.” Senyum tipis diberikan kepada Kang Aryo. “Kaki neng gimana? Sudah baikan?” Wajah Aryo yang sedikit khawatir dengan keadaan kaki Deia.
“Yaah, lumayan membaik sih. Tapi masih tetep sakit.”
“Yaudah atuh kalo gitu Neng istirahat aja ya. Saya bener-bener minta maaf pisan, soal kejadian kemarin. Gara-gara saya ngajak Neng Dea sama Neng Ane ke tempat pembuatan dodol, Eneng jadi seperti ini.” Dengan wajah yang merasa bersalah. “Ah, gapapa kong kang, ini emang sayanya aja yang kurang hati-hati.” Sambil mengambil sesuap nasi.
“Oh ya Kang, soal kejadian tempo hari itu lupain aja ya Kang.”
“Loh, kenapa Neng? Gapapa kok Neng, insya Allah saya akan berusaha ganti kerusakan itu. Emang saya yang salah kok Neng, saya kurang hati-hati.” “Gapapa, Kang. Lagian bener kata Ane, mobil saya cuma lecet lima sentimenter. Sayanya aja yang berlebihan, maafin saya ya Kang.” Sambil merasa bersalah dan tidak enak hati.
“Makasih banyak ya, Neng. Aduh, saya jadi nggak enak.” Aryo tetap merasa bersalah. “Saya yang justru nggak enak sama Akang, udah nuntut berlebihan ke Akang.”  
Deia terus melanjutkan makanan yang ada di depannya, ditemani Aryo di sampingnya. Mereka berdua mengobrol larut dalam keasyikan. Dalam obrolan itu, ada beberapa hal yang baru diketahui Dea dari Aryo. Ternyata Aryo sosok anak yang berbakti. Dia menjadi tulang punggung keluarga, karena bapaknya yang sudah meninggal dan kedua adiknya yang masih sekolah. Masa sih lo tega nuntut ganti rugi atas kejadian itu, jahat banget lo! Deia menyalahkan dirinya dalam hati.
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Keesokan harinya, Deia dan Aryo diajak berkeliling ke daerah sekitar rumah Aryo sekaligus terapi jalan. Deia sambil mengambil foto beberapa view yang bagus. Saat mereka berdua istirahat di salah satu saung dekat pesawahan, tiba-tiba dari arah belakang Ane mengagetkan Deia dan menggodanya bersama Aryo. “Ciee, berduaan aja nii yeee.” Sambil bersuil menggonda.
“Apaan sih lo, gak lucu tau.” Dengan wajah yang cemberut. “Eh, Neng Ane. Damang, Neng?” Tanya Aryo.
“Alhamdulillah baik, Kang.” Jawab Ane tersenyum manis. “Kaki lo gimana? Udah mendingan?” Tanya Ane. “Masih sakit sih, tapi lumayan lah. Tadi gue juga abis keliling daerah sini.” Sambil menunjuk daerah sekitar .
“By the way, kapan mau foto pre-wedding sepupu gue lagi? Masalahnya sepupu gue orangnya sibuk, dan dia gak bisa lama-lama di Garut. Sebentar lagi dia mau ke Kalimantan nih.” Tanya Ane.
“Oh, yaudah kalo gitu. Kayaknya besok kita juga udah bisa mulai pemotretan lagi kok” Sambil meyakinkan Ane. “Yakin lo?” dengan nada yang tidak percaya. “Yakin! Percaya gue! Lagian gue juga gak enak sama sepupu lo.” “Ok, sip kalo gitu.” tersenyum senang.
“Balik yuk! Gue udah bawa mobil lo tuh.” Ajak Deia pulang.
Deia dan Ane pamit pulang ke rumah sepupu Ane. Ketika Deia berusaha berdiri dan pergi, kakinya yang masih sakit membuat tubuh Deia tidak seimbang dan jatuh. Namun Aryo dengan reflexnya menolong Deia. Muncul perasaan aneh seketika itu dan tidak biasa. Tatapan Deia kepada Aryo begitupun Aryo kepada Deia seperti memiliki arti yang khusus dan mendalam. “Ciee, ehem..ehem..” Ane dengan sengaja menggoda Deia.
Deia langsung berusaha berdiri, berpura-pura merapikan baju dan rambutnya. Sedangkan Aryo terlihat berpura-pura menggaruk kepala sambil terlihat acuh. Mereka berdua pun pamit pulang.
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Satu bulan kemudian Deia dan Ane kembali ke Garut untuk menghadiri pernikahan sepupu Ane. Perasaan gembira dirasakan Deia kembali berkunjung ke Kota Dodol, karena ada seseorang yang dipikirkannya tiap hari selama di Jakarta kemarin.
Kemeja kotak-kotak warna biru tua, celana bahan, sepatu hitam menampilkan kesederhanaan dalam dirinya tapi justru membuat  Deia terpesona. Aryo yang melihat Deia dengan gaun sederhana penuh takjub terlihat dari matanya yang berbeda.
“Assalamu’alaikum, Neng. Kumaha damang?” Tanya Aryo.
            “Alhamdulillah baik, Kang” Jawab Deia sambil tersenyum senang dalam hati. “Eneng dari kapan datang kemari?”.
            “Ooh, baru tadi siang kok, Kang. Besok juga kayaknya udah pulang lagi.”
            “Wah, kenapa cepat-cepat sekali, Neng?” Penuh penasaran.  “Emm, masih ada tugas di Jakarta. Jadi gak bisa ditinggalin deh.” Sambil cemberut merasa terpaksa.
Datang seorang gadis berumur 17 tahun menghampiri Deia dan Aryo. Sontak kaget dirasakan Deia ketika gadis itu mengatakan bahwa dia adalah orang yang sering diceritakan Aryo kepada keluarganya selama ini. Deia tersipu malu, sedangkan Aryo terlihat salah tingkah. Aryo merasa tidak enak dan meminta maaf atas perkataan adiknya itu. Untuk yang ke sekian kalinya Ane datang dan langsung menyeletuk bahwa Deia juga memiliki rasa yang sama pada Aryo. “Lo gak inget kita udah sahabatan berapa lama? Gue tau, tampang lo gak bisa dibohongin. Lo juga suka kan sama kang Aryo? Ngaku aja kali, hahaha…” sahut Ane.  
            “Apaan sih lo, berisik tau.” Jawab Deia ketus kesal.
            Ane memang sahabat Deia yang senang menjailinya. Tapi yang jelas saat itu Deia bahagia karena ternyata Aryo pun suka dengannya. Meskipun terpisah oleh jarak, tapi tidak menjadikan mereka berdua sebagai penghalang untuk tetap menjalin cinta kasih.
---------------------------------------------------------------------------------------------------

Jadi ceritanya aku ikutan lomba cerpen romance, tapi belum dikasih kesempatan menang. :D
Tetap Senyum ^_^